Dewa Gde Satrya

Keampuhan MICE dan Kesiapan Daerah

Selasa, 3 Januari 2012 | 15.05 WIB | Editor:
Keampuhan MICE dan Kesiapan Daerah
Ilustrasi MICE: The Xiamen International Conference & Exhibition Centre is the scene of many grand exhibitions throughout the year both for international and local events.
Bandung Media -

Di pengujung tahun 2011, industri MICE (meeting, incentive, convention, exhibition) sebagai salah satu komponen sektor pariwisata, perlu dilihat kontribusi dan dampaknya terhadap perekonomian negara. Serta, perlunya membangun kesepahaman untuk memperkuat industri ini di tahun-tahun mendatang.

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), wisatawan MICE di Indonesia tahun 2005 sebanyak 67,147 orang dari total wisatawan mancanegara (wisman) sebanyak 5,002,101, tahun 2006 sebanyak 68,118 orang dari 4,871,351 wisman, tahun 2007 sebanyak 89,770 orang dari 5,505,759 wisman, tahun 2008 sebanyak 190,970 orang dari 6,234,497 wisman, tahun 2009 sebanyak 205,037 orang dari 6,323,730 wisman, dan tahun 2010 sebanyak 236,082 orang dari 7,002,944 wisman.

Kemenparekraf juga telah mengidentifikasi sejumlah permasalahan di industri MICE. Di antaranya, kualitas SDM MICE terbatas, pelayanan kurang memadai (penerbangan, imigrasi, bea cukai, bandara), lemahnya manajemen destinasi, biro konvensi belum berfungsi optimal, terbatasnya jalur penerbangan langsung internasional ke Indonesia, informasi tertinggal dibanding negara tetangga, masih rendahnya jumlah penyelenggaraan kegiatan MICE internasional di Indonesia, banyaknya Kementerian/Lembaga yang tidak melaksanakan kegiatan MICE secara profesional, dan terbatasnya fasilitas MICE di Indonesia. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, prioritas penanganan dilakukan dengan 3 strategi, yakni, pengembangan kapasitas MICE, promosi MICE, serta MICE bidding dan pendukungan even.

MICE sendiri merupakan produk unggulan karena kegiatan itu menghasilkan devisa dan pendapatan daerah lebih besar dibandingkan pengeluaran wisatawan biasa yang datang ke Indonesia. Wisatawan MICE pada umumnya mempunyai pengeluaran (spend of money) yang tinggi dan lama tinggal (length of stat) lebih panjang, karena mereka mengikuti kegiatan pre and post tour. Sehingga, secara keseluruhan waktu dan pengeluaran mereka lebih besar.

Selain itu, wisatawan MICE memiliki tingkat kekebalan yang relatif lebih tinggi terhadap berbagai isu ketidakjelasan di suatu negara. Mereka tidak mudah membatalkan kunjungannya. Even MICE juga memberikan manfaat langsung pada ekonomi masyarakat seperti akomodasi, usaha kuliner, cinderamata, guide, hingga transportasi lokal.

Di dalam negeri mutlak membutuhkan pembenahan secara terus menerus, terutama pada elemen dasar MICE (akomodasi hotel dan ruang pertemuan, bandara, sarana transportasi dalam dan antar kota serta keamanan). Menjelang pelaksanaannya, perlu koordinasi yang intensif dengan masyarakat tempat berlangsungnya acara MICE agar mereka juga turut serta berpartisipasi sesuai dengan kapasitas yang dimiliki.

Dalam Sidang Kabinet Paripurna Jumat (17/12-2011) dengan agenda mendengarkan prsentasi Sekjen ASEAN Surin Pitsuwan, Presiden SBY mengutarakan niatan untuk membentuk sebuah komite nasional untuk menangani berbagai even tingkat tinggi berskala internasional tahun 2011. Rencananya tim itu di bawah koordinasi Wapres Boediono. Tahun 2011 yang baru dilalui menjadi berkah bagi Indonesia yang terpilih sebagai Ketua Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN). Ratusan perhelatan internasional sepanjang tahun 2011-2013, selain juga penyelenggaraan KTT East Asia dan ASEAN Summit. Presiden juga mengingatkan agar para menteri mencarikan tempat lokasi meeting selain Jakarta dan Bali untuk mengenalkan berbagai destinasi wisata Tanah Air kepada dunia. Kepala Negara juga berharap agar disatukan dengan kegiatan MICE.

MICE Daerah

Saat ini, hal penting yang perlu diupayakan adalah pemerataan destinasi MICE internasional di berbagai daerah di Indonesia. Strategi ini diperlukan untuk semakin memperkuat positioning dan branding MICE Indonesia sebagai sub sektor industri pariwisata. Kemenparekraf juga menetapkan 14 daerah tujuan utama MICE internasional. Antara lain, Medan, Pekanbaru, Batam, Bintan, Padang/Bukit Tinggi, Palembang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Bali, Lombok, Balikpapan, Makassar dan Manado.

Titik kritis kesuksesan penyelenggaraan MICE terutama terletak pada koordinasi, integrasi, sinergi dan sinkronisasi antar stakeholder MICE di berbagai daerah di Indonesia. Selain kompetisi setiap pelaku usaha terkait MICE, yang sama pentingnya adalah semangat kooperasi untuk memperkuat destination branding MICE. Koopetisi (kooperasi dalam kompetisi) antar pelaku usaha dan pemerintah inilah yang perlu terus diintensifkan untuk pemerataan industri MICE.

Sekurangnya, ada 3 benefit pemerataan MICE di Indonesia. Pertama, mewujudkan impian percepatan pembangunan pariwisata berkelanjutan yang bertumpu pada 4 pilar strategis atau tripple track strategy plus, yakni pro-pertumbuhan ekonomi, pro-penciptaan lapangan kerja, pro-pengentasan kemiskinan, dan pro-lingkungan hidup. Melalui pencapaian 4 pilar strategis tersebut, MICE di berbagai daerah di Indonesia berdampak signifikan menggerakkan segenap potensi wisata yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Idealisme kepariwisataan yang menjanjikan kesejahteraan bagi masyarakat akan benar-benar diuji.

Kedua, pemerataan MICE juga diharapkan semakin menumbuhkan awareness di kalangan masyarakat luas di daerah ini akan pentingnya kepariwisataan bagi daerah. Tak hanya dari segi mendongkrak pertumbuhan ekonomi, lebih-lebih mendorong warga Indonesia untuk mengenali dan menghargai setiap potensi wisata yang dimiliki berbagai daerah di Indonesia.

Tak menampik kenyataan, selama ini mainstream MICE dan kepariwisataan umumnya di Tanah Air dipegang oleh destinasi Bali dan Yogyakarta. Tanpa bermaksud merendahkan keindahan dan keunggulan destinasi-destinasi wisata atau MICE di dua daerah tersebut, justru kita perlu belajar dari kedua daerah tersebut dalam melakukan percepatan popularitas destinasi wisata dan MICE. Karenanya, pemerataan MICE memiliki benefit ketiga, yakni mendorong popularitas destinasi-destinasi wisata di Indonesia selain Bali dan Yogyakarta. Ketiga benefit tersebut hanya di atas kertas manakala kesiapan daerah dalam menyambut wisatawan MICE tidak dipersiapkan dengan matang. [Bali Post]

Penulis: Dewa Gde Satrya, Dosen International Hospitality & Tourism Business, Universitas Ciputra

Cetak
Tinggalkan komentar, tanggapan, kritik atau apapun untuk tulisan di atas. Kami berhak tidak menampilkan tanggapan atau komentar jika tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau tidak sesuai topik.

Tinggalkan Komentar