Wisata Kuliner Bandung

Warung Kopi Waddaddah Bandung Sajikan Cita Rasa Kopi Susu Bulukumba

Kamis, 16 Februari 2012 | 11.13 WIB | Editor:
Bandung, Bandung Media -

Tidak dipungkiri, kopi dan Indonesia sudah sangat dekat. Istilah “ngopi” atau “nyangkruk” memang sudah begitu mengakar di masayarakat Indonesia dari semenjak dahulu, jauh sebelum kedai-kedai kopi modern menggerus keberadaan warung kopi tradisional.

Kini, tidak sedikit pula warung-warung kopi lokal yang berusaha menghadirkan dan menghidupkan kembali cita rasa kopi khas nusantara. Selain untuk berbisnis, kehadiran mereka juga bertujuan untuk menjaga keberadaan dari (warung) kopi lokal.

Seperti Warung Kopi Waddaddah yang berusaha menerapkan semangat kelokalan tersebut. Menurut Muhammad Yahya (37), selaku pemilik Warung Kopi Waddaddah, warung tersebut sebenarnya merupakan duplikat asli warung kopi khas dari kota asalnya, Bulukumba, yang bernama “Dua Tellue”.

“Saya tidak mengubah apapun dari racikan khas Bulukumba. Bahan, peralatan, sampai tata letak dapur warung ini, saya datangkan langsung dari Bulukumba. Saya sempat tinggal di sana selama 3 tahun dan saya sering keluar-masuk warung kopi, terutama saya banyak belajar banyak dari Warung Kopi Dua Tellue,” tutur Yaya, panggilan Muhammad Yahya, Rabu (15 Februari 2012).

Warung Kopi Waddaddah memiliki konsep desain bernuansa anak muda. Meskipun lokasinya berada di tepi jalan dan mengundang banyak lalu lalang orang dan kendaraan, namun suasana Warung Kopi Waddaddah cukup nyaman dan memuat betah setiap pengunjung, terlebih warung kopi ini juga dilengkapi fasilitas wi-fi gratis.

“Kita cuma jual 1 macam kopi, yakni kopi susu. Orang di Bulukumba lebih suka yang manis, tapi di Bandung, orang lebih suka minum kopi hitam. Akhirnya kopi susunya kita jadikan lebih kental, lebih hitam. Makanya proses peracikan kopi ini harus dibuat sedemikian rupa, agar cukup kuat untuk mengimbangi susunya,” ujar Yaya.

Di Warung Kopi Waddaddah sendiri ada lima level racikan kopi dengan komposisi susu yang berbeda, yakni “Kopi Susu Manis” (disajikan dengan campuran susu yang kental), “Kopi Susu Tipis” (disajikan dengan campuran susu yang lebih sedikit), “Kopi Susu Duatellue” (dengan campuran susu yang pas), “Kopi Susu Tebal” (susunya tipis, tapi kopinya tebal), Kopi Hitam Waddaddah (original kopi tanpa kombinasi susu).

Saat mencoba “Kopi Susu Duatellue”, pertama disajikan susunya masih mengendap, sedangkan kopinya terlihat pekat dan mengoarkan aroma khas kopi pahit. Sebelum kedua campuran tersebut “dikawinkan”, rasa kopinya benar-benar pahit, sehingga bagi pecinta kopi hitam, pasti akan terpikat dengan sensasi kopi racikan Warung Kopi Waddaddah yang menggunakan campuran dari berbagai jenis kopi pilihan yang didatangkan langsung dari dataran tinggi Sulawesi Selatan.

Namun, saat kepekatan kopi dan susu kental manis tersebut diaduk hingga merata, rasanya sangat istimewa, karena menghadirkan sensasi rasa legit yang pas.

Sekilas, tatanan secangkir kopi susu khas Bulukumba tersebut hampir serupa dengan kopi susu pada umumnya, namun yang menjadi keunikannya terletak pada aroma dan rasanya yang begitu menggoda. Dan yang lebih uniknya, kopi tersebut disajikan dengan 2 potong kue tradisional, yakni “Baruasa Balanda” dan “Bangket Kacang”.

“Untuk mendapatkan kopi yang pekat dan benar-benar kental, ada 2 proses pemasakannya. Kopi yang sudah ditumbuk kasar diseduh dengan teko pertama dengan menggunakan penyaring kain. Kemudian setelah kopi terlihat pekat, kopi dari teko pertama disaring lalu dipindahkan ke teko yang kedua,” jelas Yaya sembari mempraktikkan langsung proses peracikannya.

Warung Kopi Waddaddah berada di Jalan Gegerkalong Hilir Nomor 128 Bandung. Buka setiap Selasa s.d. Minggu, mulai pukul 10.00 WIB s.d. 22.00 WIB. Uniknya, jika pengunjung datang sebelum pukul 15.00 WIB, maka akan dikenakan harga 7 ribu rupiah per gelas, namun jika datang lewat dari pukul 15.00 WIB, pengunjung yang ingin menikmati kopi susu tersebut akan dikenakan harga 10 ribu rupiah.

“Saya sendiri mau orang datang ke sini karena nyari kopi susunya, karena ini khas Bulukumba,” pungkas Yaya.[detikcom]

Cetak
Tinggalkan komentar, tanggapan, kritik atau apapun untuk tulisan di atas. Kami berhak tidak menampilkan tanggapan atau komentar jika tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau tidak sesuai topik.

Tinggalkan Komentar