Buggy Car, Mobil SMK dari Bandung
Kamis, 5 Januari 2012 | 18.02 WIB | Editor: Baida
Tidak mau ketinggalan dengan tren mobil nasional, siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 8 Bandung mengumumkan telah membuat 5 mobil rakitan sendiri. Berbeda dengan SMK dari Surakarta, pelajar SMK Bandung ini membuat buggy car. Komponen lokal mobil pantai dan off-road itu mencapai hampir 75 persen.
Karya pelajar SMK di Jalan Kliningan Bandung itu kini dilirik oleh pejabat daerah setelah mobil Esemka (SMK) di Surakarta naik daun. “Rencananya Pak Wali Kota atau Wakilnya mau datang ke sekolah untuk melihat proses pembuatannya,” kata Kepala SMK Negeri 8 Bandung Dedi Indrayana, Kamis, 5 Januari 2012.
Mobil yang diberi nama buggy car ABCD alias Anak Bandung Cinta Damai ini berkapasitas 1.500 cc dengan 4 silinder dan mempunyai 5 jenis kecepatan. Mesin yang cukup besar itu berasal dari mesin bekas mobil Toyota Vios. Sekolah ini mengimpornya dari Singapura dengan 18 juta rupiah per unitnya. “Di sini dapat mesinnya susah karena mobilnya masih banyak dipakai,” kata Dedi.
Lebar mobil tanpa kaca ini sekitar 1,5 M dengan panjang 3,5 M. Hasil modifikasi mengubah mesin dari penggerak roda depan menjadi penggerak roda belakang. Menurut Dedi, barang yang diimpor untuk mobil itu hanya mesin saja. Selebihnya memakai bahan lokal yang dirakit sendiri oleh siswa SMK Negeri 8. “Kalau mesin sekitar 25 persen dari mobil, 75 persennya komponen lokal,” kata dia.
Gagasan atau ide pembuatan buggy car ini berasal dari para guru, alumnus, kepala sekolah, serta orang tua siswa pada tahun 2009. Bahkan rangka mobil purwarupanya sempat memakai pipa bekas. Proses awal makan waktu agak lama, sehingga mobil baru jadi setelah 6 bulan bulan. Hal itu dikarenakan proses mencari pola dan desain mobil yang pasa, cocok dan sesuai dengan standar. “Sengaja tidak membuat mobil umum agar karya siswa tidak menabrak regulasi (mobil) yang ada,” katanya.
Kadinas Pendidikan Jabar, Wahyudin Zarkasi, mengatakan SMK-SMK di Jawa Barat sudah sanggup merakit berbagai kendaraan. Selain buggy car, SMKN 3 di Kabupaten Kuningan juga telah berhasil membuat purwarupa angkot (angkutan kota) dan telah bekerja sama untuk pemakaiannya dengan koperasi angkot setempat. Bahkan, SMKN 12 Bandung sanggup merakit pesawat J430 buatan Australia.
Soal kemungkinan tumbuhnya industri angkutan dari SMK-SMK di Indonesia, kata Wahyudin, diperkirakan bakal sulit. Selain perlu ratusan insinyur untuk sebuah industri, regulasi yang berlaku juga menjadi ganjalan berat. Ia berharap industri kendaraan darat dan udara itu dibuka oleh perusahaan-perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Wahyudi menambahkan, sumber daya dan kemampuannya bisa berasal dari lulusan SMK yang kini telah banyak dilamar oleh industri otomotif dalam negeri. “Sekarang jangan bilang karya anak SMK itu nggak layak, tapi harus dibantu,” katanya. [tempo]



