Aplikasi Belajar Bahasa Isyarat dengan Kinect XBox
Jumat, 20 Januari 2012 | 15.56 WIB | Editor: Baida
Sensor Kinect XBOX 360 dari Microsoft dikenal sebagai teknologi yang dapat menjadikan bermain game menjadi tambah mengasyikkan dengan menggunakan sensor gerak tubuh atau gesture. Akan tetapi, di tangan mahasiswa Institut Teknologi (IT) Telkom Bandung, teknologi Sensor Kinect tersebut dibuat menjadi sensor bantu bagi kaum difabel, yaitu tuna rungu.
Aplikasi yang diciptakan tersebut yakni Isara. Aplikasi kamus bahasa isyarat ini berbasis NUI (Natural User Interface). Dengan sensor Kinect dan gambar video, alat ini didesain agar tuna rungu dapat lebih asyik dalam mempelajari bahasa isyarat.
“Kami dedikasikan aplikasi ini untuk orang tuna rungu yang sulit belajar isyarat konvensional dengan menggunakan kartu dan gambar, karena statis,” ujar salah seorang anggota tim Isara, Muhammad Endri Irfanie, di sela-sela Penganugerahan Mandiri Young Technopreneur Award 2011 di JCC, Jakarta, Jumat, 20 Januari 2012.
Aplikasi Isara utamanya merupakan perangkat sensor yang dihubungkan dengan PC webcam. Kemudian, pengguna berdiri tepat di depan sensor dalam jarak 1 meter. Dalam layar akan muncul menu utama, yang berisi kamus, video, dan game yang semuanya berbasis gesture.
“Pengguna akan menirukan gambar video, nanti akan terlihat apakah gerakan tubuh sudah benar atau belum,” tambahnya.
Fitur game berisi tebakan sebuah kosa kata yang harus dijawab dengan gesture. Jika salah atau benar akan muncul notifikasinya.
Aplikasi ini sudah diujicoba pada tahun 2011 di Sekolah Luar Biasa (SLB) 6 Jakarta Barat. Menurut Endri, respon para siswa difabel sangat positif. “Mereka fun banget,” ucapnya.
Fitur statistik, untuk mengetahui hasil penilaian bagaimana progres belajar bahasa isyarat selama yang dijalani, apakah ada peningkatan atau tidak.
Ke depan, ia bersama empat koleganya akan mengembangkan aplikasi ini dalam bentuk isyarat kalimat dan membuat videonya sendiri. Karena sampai saat ini videonya diperoleh dari pihak Telkom.
Aplikasi ini, lanjutnya akan dikembangkan di SLB dan komunitas tuna rungu. Ia berharap Kementerian Sosial dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dapat bekerjasama dalam hal distribusi aplikasi ini. “Biar SLB tidak bayar,” ujarnya.
Agar lebih seru, pihaknya dalam waktu dekat akan meng-upload aplikasi ini dalam platform berbasis jejaring sosial. Sehingga para tuna netra dapat saling bersosialisasi.
Atas karya ini, mereka menjadi Pemenang Terbaik I Kategori Teknologi Informasi dan Komunikasi Mandiri Young Technopreneur Award tahun 2011. Hadiah sebesar 50 Juta rupiah, dan modal awal sebesar 1,5 milyar rupiah pun berhak mereka bawa pulang.
Endri dan kawan-kawan pun akan mengembangkan aplikasi ini. Ia mengatakan harga aplikasi 500 ribu rupiah, sedangkan sensornya 700 ribu rupiah.[vivanews/foto: GamesRevoo]



